Upaya Meningkatkan Rasa Nasionalisme Peserta Didik melalui Layanan Bimbingan dan Konseling
17/07/2025 : 08.00 WIB
Rasa nasionalisme merupakan nilai fundamental yang perlu ditanamkan kepada peserta didik sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh budaya asing, nilai-nilai kebangsaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Peserta didik kerap lebih dekat dengan budaya global melalui media digital dibandingkan dengan nilai-nilai nasional. Oleh karena itu, sekolah memiliki tanggung jawab strategis untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air melalui pendekatan pendidikan yang kontekstual, salah satunya melalui layanan bimbingan dan konseling.
Layanan bimbingan dan konseling memiliki peran penting dalam membentuk sikap, nilai, dan karakter peserta didik. Tidak hanya berfokus pada aspek pribadi dan akademik, layanan ini juga berfungsi sebagai wahana internalisasi nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan. Melalui proses pendampingan yang berkelanjutan, konselor membantu peserta didik memahami makna nasionalisme serta peran mereka sebagai generasi penerus bangsa.
Salah satu upaya utama dalam meningkatkan rasa nasionalisme adalah membantu peserta didik mengenali identitas dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Konselor membimbing peserta didik untuk memahami sejarah perjuangan bangsa, nilai-nilai luhur budaya nasional, serta pentingnya menjaga persatuan. Kesadaran akan identitas nasional ini menjadi dasar bagi tumbuhnya rasa bangga dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Selain penguatan identitas, layanan bimbingan dan konseling berperan dalam menumbuhkan sikap toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, nasionalisme tercermin melalui sikap saling menghormati perbedaan. Melalui bimbingan kelompok dan layanan klasikal, peserta didik diajak memahami bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus dijaga bersama.
Layanan bimbingan dan konseling juga berkontribusi dalam membentuk sikap tanggung jawab sosial peserta didik. Nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui simbol, tetapi juga melalui perilaku nyata, seperti disiplin, kepedulian sosial, dan ketaatan terhadap aturan. Konselor menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pembiasaan positif dan refleksi diri yang berkesinambungan.
Dalam fase perkembangan remaja, peserta didik sering mengalami pencarian jati diri yang dipengaruhi oleh lingkungan dan media. Pada konteks ini, layanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik bersikap kritis terhadap pengaruh negatif globalisasi, tanpa menutup diri dari perkembangan dunia. Pendampingan ini penting agar peserta didik tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan.
Selain itu, layanan bimbingan dan konseling berfungsi sebagai upaya preventif terhadap sikap apatis dan individualistis. Konselor mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan sekolah dan sosial yang bernuansa kebangsaan. Partisipasi ini menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan serta bangsa.
Keberhasilan upaya peningkatan nasionalisme juga ditentukan oleh kolaborasi antara konselor, guru, dan seluruh warga sekolah. Konselor dapat bekerja sama dengan guru mata pelajaran dalam mengintegrasikan nilai-nilai nasionalisme ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan pengembangan diri. Sinergi ini menciptakan iklim sekolah yang mendukung pembentukan karakter nasionalis.
Pemanfaatan pendekatan kreatif dalam layanan bimbingan dan konseling semakin memperkuat internalisasi nilai nasionalisme. Diskusi reflektif, kegiatan sosial, dan penggunaan media edukatif membuat peserta didik lebih mudah memahami dan menghayati nilai kebangsaan secara kontekstual dan bermakna.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling memiliki peran strategis dalam meningkatkan rasa nasionalisme peserta didik. Melalui pendampingan yang terencana, berkelanjutan, dan kolaboratif, peserta didik tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang memiliki kesadaran kebangsaan dan karakter nasionalis yang kuat.
Suhas Caryono berkontribusi dalam penulisan artikel ini.